Nabi kita Nabi Muhammad ﷺ lahir di kota mekah. Beliau ﷺ tumbuh dan besar di kota mekah dan sekitar kota mekah. Beliau ﷺ dikenal oleh masyarakatnya dengan kepribadian yang baik, berakhlak mulia, jujur, amanah, tidak pernah berdusta, sampai-sampai beliau ﷺ dijuluki al-amin, yaitu orang yang sangat jujur dan terpercaya. Kaumnya pun senang dengan Nabi ﷺ, siapa yang tidak suka dengan orang yang jujur dan amanah.
Allah Ta'ala pun memilih beliau ﷺ sebagai Nabi dan Rasul untuk mengemban dakwah, mengajak kaumnya untuk masuk islam, meninggalkan berbagai macam bentuk kemusyrikan, bukan hanya meninggalkan penyembahan terhadap patung atau berhala, namun juga berdakwah agar kaumnya meninggalkan jimat, mendatangi dukun, percaya dengan ramalan bintang, dan lain sebagainya.
Karena memang itulah dakwah semua Rasul yang Allah Ta’ala utus,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …{36}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu (sesembahan selain Allah)” (QS. An Nahl:36).
Sehingga mereka pun membenci Nabi ﷺ, dikarenakan dakwah yang beliau bawa. Mereka menuduh Nabi ﷺ sebagai penyihir, orang gila, hingga puncaknya mereka merencanakan pembunuhan kepada Nabi ﷺ.
Maka Allah Ta'ala pun memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk pindah atau hijrah ke kota Madinah. Nabi ﷺ sangat mencintai kota mekah. Diriwayatkan ucapan beliau ketika akan hijrah ke kota Madinah :
(والله إنك لأحب بلاد الله إلى الله وإنك لأحب بلاد الله إلي، ولولا أن قومك أخرجوني ما خرجت)
"Demi Allah, sesungguhnya engkau wahai Mekah adalah negeri yang paling Allah cintai, dan juga negeri yang paling aku cintai, kalaulah bukan karena pendudukmu yang mengusirku aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
Bahkan sebagian shahabat beliau -radhiyallahu 'anhum- menangis dikarenakan cinta dan rindu kepada kota Mekah, maka ketika itu Nabi ﷺ berdoa :
(اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة وأشد حباً ...)
"Ya Allah, berilah kami kecintaaan kepada kota Madinah sebagaimana cinta kami kepada kota Mekah atau lebih cinta lagi...)
Ketika beliau ﷺ tiba di kota Madinah, beliau ﷺ mendapatkan sambutan yang luar biasa, penduduk Madinah sangat bahagia dengan kedatangan Nabi ﷺ. Maka hampir seluruh penduduk Madinah masuk islam. Namun ternyata gangguan dari orang-orang Quraisy tidak berhenti walaupun Nabi ﷺ tidak di Mekah lagi, sehingga terjadilah banyak peperangan.
Hingga pada tahun ke-6 hijriah terjadilah perjanjian damai antara musyrikin Quraisy dengan kaum muslimin yang terkenal dengan perjanjian Hudaibiyah, di antara isinya adalah kedua belah pihak tidak boleh saling menyerang. Namun pada tahun ke-8 hijriah salah satu kubu musyrik Quraisy menyerang kubu kaum muslimin. Maka Nabi ﷺ tidak terima dengan pengkhianatan tersebut.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada pengikutnya untuk mempersiapkan senjata dan peralatan perang lainnya untuk menyerang kota mekkah. Nabi ﷺ membawa sekitar 10.000 pasukan dengan strategi senyap diam-diam agar tidak diketahui oleh penduduk Mekkah akan datangnya pasukan kaum muslimin. Sampai-sampai Nabi ﷺ berdoa
اللهم عمّ أخبارنا عنهم
"“Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga kami tiba di sana secara tiba-tiba.”
Maka singkat cerita, Nabi ﷺ tiba di kota Mekkah dan mengepung kota tersebut tanpa diketahui oleh Musyrik Quraisy. Melihat pasukan kaum muslimin yang lengkap dengan persenjataan membuat nyali mereka ciut dan mereka memilih untuk menyerah dikarenakan juga takut akan kalah telak dan takut banyak korban dari pihak mereka. Maka kaum muslimin berhasil menaklukkan kota Mekah tanpa adanya pertumpahan darah.
Maka peristiwa penaklukan kota mekah tersebut diabadikan oleh Allah di dalam surat An-Nashr. Arti dari النَّصْرِ adalah kemenangan atau pertolongan
﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ *
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
إذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ والفَتْحُ *
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan"
Al-Fathu atau penaklukan di sini adalah penaklukan kota Mekkah. Maka Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya pun memasuki kota Mekkah dengan kemenangan yang besar tanpa perlawanan sedikitpun, hingga akhirnya semua penduduk mekkah berkumpul di sekitar Ka'bah dan Nabi ﷺ berdiri di pintunya dalam keadaan mereka menunggu keputusan apa yang akan dibuat oleh Nabi ﷺ.
Maka Nabi ﷺ berkata kepada mereka :يا معشر قريش، ما تظنون أني فاعل بكم؟
"Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?"
Padahal dahulunya orang-orang yang di hadapan Rasulullah ﷺ adalah mereka yang sangat memusuhi beliau ﷺ. Mereka pun menjawab pertanyaan tersebut :
خيرًا، أخ كريم وابن أخ كريم
"Tentu kebaikan, engkau adalah saudara yang baik, anak saudara yang baik"
Maka Nabi ﷺ menjawab :
فإني أقول لكم كما قال يوسف لأخوته ﴿لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ﴾ [يوسف ٩٢]. اذهبوا فأنتم الطلقاء
"Maka aku ucapkan kepada kalian perkataan Yusuf kepada saudara-saudaranya (Tidak ada celaan bagi kalian hari ini, Allah mengampuni kalian), pergilah kalian, sesungguhnya kalian semua bebas"
Maka Nabi ﷺ memaafkan mereka. Penaklukkan inipun memiliki efek yang luar bisa, banyak orang yang menilai luar biasanya dakwah islam yang begitu pemaaf dan tidak dendam, dan mereka pun akhirnya yakin bahwa kebenaran ada di pihak Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
"Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap."
Kemudian pada ayat berikutnya dari surat An-Nashr Allah berfirman :
ورَأيْتَ النّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أفْواجًا *
"dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah"
Yang dahulu mereka adalah musuh-musuh islam kemudian masuk islam dan menjadi pengikut dan penolong Nabi ﷺ. Padahal sebelumnya orang yang masuk islam itu sendiri-sendiri dan itupun sembunyi-sembunyi, namun setelah penaklukan kota Mekah sekitar tahun 9 hijriyah masuklah orang-orang dengan rombongan yang besar dari berbagai tempat untuk bersyahadat di hadapan Rasulullah ﷺ. Sampai-sampai tahun tersebut dikenal dengan aamul wufud yaitu tahun rombongan yang besar.
Kemudian setelah kemenangan yang besar tersebut yang merupakan pertolongan Allah dan masuknya manusia ke dalam islam berbondong-bondong, Allah pun memerintahkan Nabi Nya untuk bersyukur, bagaimana caranya :
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ واسْتَغْفِرْهُ إنَّهُ كانَ تَوّابًا﴾ [١ - ٣]
"maka bertasbihlah dalam dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat"
Istri beliau Ummul Mukminin 'Aisyah menceritakan ketika turun surat An-Nashr :
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُكثِرُ أن يقولَ في ركوعِه وسُجودِه: سبحانك اللَّهُمَّ رَبَّنا وبحَمْدِك، اللَّهُمَّ اغفِرْ لي؛ يتأوَّلُ القُرآنَ
"Nabi ﷺ memperbanyak dzikir ini di dalam sholatnya ketika rukuk dan sujud
سبحانك اللَّهُمَّ رَبَّنا وبحَمْدِك اللَّهُمَّ اغفِرْ لي
dalam rangka mengamalkan perintah Allah di dalam Al-Quran"
Terdapat hal penting yang diisyaratkan oleh surat An-Nashr yang hanya bisa dipahami oleh yang cerdas, karena sekelas ulama sahabat Nabi banyak yang tidak mengetahui tafsir tersembunyi dari surat ini, sebagaimana Umar -رضي الله عنه- pernah mengumpulkan shahabat Nabi yang senior untuk menanyakan tafsir ini, maka sebagian menjawab :
أمرنا أن نحمد الله ونستغفره إذا نصرنا وفتح علينا، وقال بعضهم: لا ندري، ولم يقل بعضهم شيئًا. فقال: ما تقول ياابن عباس قال: يا أمير المؤمنين هو أجل رسول الله ﷺ، أعلمه الله له: ﴿إذا جاء نصر الله والفتح﴾ فتح مكة فذاك علامة أجلك، ﴿ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجًا. فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابًا﴾ فقال عمر: «والله ما أعلم منها إلا ما تعلم»
Kemudian juga ada isyarat kedua dari tafsir surat ini, bahwa ketika Nabi banyak bersyukur kepada Allah
وَاَللَّهُ يَقُولُ: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ وَقَدْ وُجِدَ ذَلِكَ فِي زَمَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَبَعْدَهُمْ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ لَمْ يَزَلْ نَصْرُ اللَّهِ مُسْتَمِرًّا،
Allah berfirman : “jika kalian bersyukur maka pasti akan aku tambahkan” dan hal ini terbukti pada zaman khulafa ar-rosyidin dan juga setelah zaman mereka pada umat ini bahwa pertolongan Allah terus berlanjut
حَتَّى وَصَلَ الْإِسْلَامُ إلَى مَا لَمْ يَصِلْ إلَيْهِ دِينٌ مِنْ الْأَدْيَانِ،
Hingga sampailah islam berkembang dan berjaya yang belum pernah dialami agama-agama lain
وَدَخَلَ فِيهِ مَا لَمْ يَدْخُلْ فِي غَيْرِهِ،
Dan begitu banyak yang masuk Islam yang belum pernah terjadi seperti demikian
حَتَّى حَدَثَ مِنْ الْأُمَّةِ مِنْ مُخَالَفَةِ أَمْرِ اللَّهِ مَا حَدَثَ، فَابْتَلَاهُمْ اللَّهُ بِتَفَرُّقِ الْكَلِمَةِ، وَتَشَتُّتِ الْأَمْرِ، فَحَصَلَ مَا حَصَلَ.
Namun ketika umat menyelisihi perintah Allah, maka Allah pun menimpakan mereka dengan perpecahan dan tercerai-berai, maka terjadilah yang terjadi.
Maka pelajaran yang bisa kita petik adalah apabila kita ingin islam kembali berjaya seperti di zaman keemasannya, maka kita boleh tertipu oleh kehidupan dunia, tidak pernah belajar ilmu agama dan tidak mengamalkan ilmu agama tersebut ke dalam semua lini kehidupan kita, maka apa yang terjadi :
سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
"...Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian”. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].

Posting Komentar