﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾ أَيْ: أَبْتَدِئُ بِكُلِّ اسْمٍ لِلَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّ لَفْظَ ﴿اسْمِ﴾ مُفْرَدٌ مُضَافٌ، فَيَعُمُّ جَمِيعَ الْأَسْمَاءِ [الْحُسْنَى].

“Dengan nama Allah” yaitu : aku memulai dengan seluruh nama Allah Ta’ala, karena lafadz “ism” mufrod mudhof (tunggal yang disandarkan”, maka ini bermakna mencakup seluruh nama-nama (Allah) yang terbaik dan terindah.

﴿اللَّهُ﴾ هُوَ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ، الْمُسْتَحِقُّ لِإِفْرَادِهِ بِالْعِبَادَةِ، لِمَا اتَّصَفَ بِهِ مِنْ صِفَاتِ الْأُلُوهِيَّةِ وَهِيَ صِفَاتُ الْكَمَالِ.

“Allah” adalah yang disembah dan diibadahi, yang Dia satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, yang mana Dia disifati dengan sifat-sifat uluhiyah (yang disembah) dan itu merupakan sifat kesempurnaan.

﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمُ﴾ اسْمَانِ دَالَّانِ عَلَى أَنَّهُ تَعَالَى ذُو الرَّحْمَةِ الْوَاسِعَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، وَعَمَّتْ كُلَّ حَيٍّ،

"Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” adalah 2 nama yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala pemilik kasih sayang yang luas dan agung yang mencapai segala sesuatu, dan mencakup setiap yang hidup

وَكَتَبَهَا لِلْمُتَّقِينَ الْمُتَّبِعِينَ لِأَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ. فَهَؤُلَاءِ لَهُمْ الرَّحْمَةُ الْمُطْلَقَةُ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَلَهُمْ نَصِيبٌ مِنْهَا.

Dan Allah menetapkan rahmatnya untuk orang-orang yang bertaqwa dan ittiba’ terhadap para Nabi dan para Rasul-Nya dengan rahmat yang mutlak, Adapun selain mereka, hanya mendapat bagian tertentu dari rahmat tersebut.

وَاعْلَمْ أَنَّ مِنْ الْقَوَاعِدِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهَا بَيْنَ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا، الْإِيمَانُ بِأَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَحْكَامِ الصِّفَاتِ.

Dan ketahuilah, di antara kaidah-kaidah yang disepakati oleh para salaf dan imam-imamnya adalah beriman dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, termasuk juga hukum-hukum dari sifat tersebut.

فَيُؤْمِنُونَ مَثَلًا بِأَنَّهُ رَحْمَنٌ رَحِيمٌ، ذُو الرَّحْمَةِ الَّتِي اتَّصَفَ بِهَا، الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمَرْحُومِ.

Maka beriman misalnya dengan nama Allah Rohman Rohim yaitu mengimani bahwa Allah Pemilik rohmah (kasih sayang) yang Allah bersifat dengannya, dan kasih sayang ini berhubungan dengan yang diberi rohmah tersebut.

فَالنِّعَمُ كُلُّهَا، أَثَرٌ مِنْ آثَارِ رَحْمَتِهِ، وَهَكَذَا فِي سَائِرِ الْأَسْمَاءِ. يُقَالُ فِي الْعَلِيمِ: إنَّهُ عَلِيمٌ ذُو عِلْمٍ، يَعْلَمُ [بِهِ] كُلَّ شَيْءٍ، قَدِيرٌ، ذُو قُدْرَةٍ يَقْدِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ.

Maka semua nikmat seluruhnya adalah bekas dari bekas-bekas kasih sayang-Nya, seperti inilah contoh kaidah ini diterapkan pada semua nama-nama Nya. Misal lainnya pada nama Al-‘aliim (Maha Mengetahui), yaitu Allah Maha Mengetahui, Allah Pemilik ilmu yang dengan ilmu-Nya mengetahui segala sesuatu. Misal lainnya : Qodiir yaitu Allah memiliki qudroh atau kemampuan untuk melakukan segala sesuatu.

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾ [هُوَ] الثَّنَاءُ عَلَى اللَّهِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ، وَبِأَفْعَالِهِ الدَّائِرَةِ بَيْنَ الْفَضْلِ وَالْعَدْلِ، فَلَهُ الْحَمْدُ الْكَامِلُ، بِجَمِيعِ الْوُجُوهِ.

"Segala puji untuk Allah” yaitu pujian atas Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan perbuatan-perbuatanNya tersebut mencakup keutamaan dan keadilan, bagi-Nya lah pujian yang sempurna dari berbagai sisi.

﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ الرَّبُّ، هُوَ الْمُرَبِّي جَمِيعَ الْعَالَمِينَ -وَهُمْ مَنْ سِوَى اللَّهِ- بِخَلْقِهِ إيَّاهُمْ، وَإِعْدَادِهِ لَهُمْ الْآلَاتِ، وَإِنْعَامِهِ عَلَيْهِمْ بِالنِّعَمِ الْعَظِيمَةِ،

“Rabb semesta alam”, adapun Rabb adalah Dia lah Pengatur semua alam -semua selain Allah disebut alam- dengan menciptakannya, dan menyiapkan bagi mereka semua peralatan, dan memberikan nikmat kepada mereka dengan nikmat-nikmat yang besar.

الَّتِي لَوْ فَقَدُوهَا، لَمْ يُمْكِنْ لَهُمْ الْبَقَاءُ. فَمَا بِهِمْ مِنْ نِعْمَةٍ، فَمِنْهُ تَعَالَى.

Yang mana apabila mereka luput dari nikmat tersebut, mustahil mereka bisa bertahan hidup, maka apapun nikmat pada mereka, semuanya itu adalah pemberian Allah Ta’ala.

وَتَرْبِيَتُهُ تَعَالَى لِخَلْقِهِ نَوْعَانِ: عَامَّةٌ وَخَاصَّةٌ.

Dan tarbiyah (pengaturan) Allah Ta’ala atas makhluk-Nya ada 2 macam : umum dan khusus.

فَالْعَامَّةُ: هِيَ خَلْقُهُ لِلْمَخْلُوقِينَ، وَرِزْقُهُمْ، وَهِدَايَتُهُمْ لِمَا فِيهِ مَصَالِحُهُمْ، الَّتِي فِيهَا بَقَاؤُهُمْ فِي الدُّنْيَا.

Adapun pengaturan secara umum adalah penciptaan para makhluk, dan Allah memberi rizqi kepada mereka, kemudian memberikan petunjuk untuk kemashlahatan mereka, sehingga mereka bisa bertahan hidup di dunia ini.

وَالْخَاصَّةُ: تَرْبِيَتُهُ لِأَوْلِيَائِهِ، فَيُرَبِّيهِمْ بِالْإِيمَانِ، وَيُوَفِّقُهُمْ لَهُ، وَيُكَمِّلُهُ لَهُمْ، وَيَدْفَعُ عَنْهُمْ الصَّوَارِفَ، وَالْعَوَائِقَ الْحَائِلَةَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ،

Adapun pengaturan secara khusus, adalah tarbiyah Allah untuk wali-wali Nya, maka Allah pun mentarbiyah mereka dengan iman, memberikan mereka taufik, dan menyempurnakannya, dan melindungi mereka dari pemaling dan penghalanav yang menghalangi antara mereka dengan Allah.

وَحَقِيقَتُهَا: تَرْبِيَةُ التَّوْفِيقِ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَالْعِصْمَةُ عَنْ كُلِّ شَرٍّ.

Yang hakikatnya adalah : pemeliharaan dengan memberikan taufiq kepada semua kebaikan dan penjagaan dari berbagai macam keburukan.

وَلَعَلَّ هَذَا [الْمَعْنَى] هُوَ السِّرُّ فِي كَوْنِ أَكْثَرِ أَدْعِيَةِ الْأَنْبِيَاءِ بِلَفْظِ الرَّبِّ. فَإِنَّ مَطَالِبَهُمْ كُلَّهَا دَاخِلَةٌ تَحْتَ رُبُوبِيَّتِهِ الْخَاصَّةِ.

Dan mungkin makna inilah yang menjadi rahasia banyaknya doa para Nabi menggunakan lafadz Rabb, karena permintaaan-permintaan mereka semuanya masuk ke dalam tarbiyah yang khusus.

فَدَلَّ قَوْلُهُ ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ عَلَى انْفِرَادِهِ بِالْخَلْقِ وَالتَّدْبِيرِ، وَالنِّعَمِ، وَكَمَالِ غِنَاهُ، وَتَمَامِ فَقْرِ الْعَالَمِينَ إِلَيْهِ، بِكُلِّ وَجْهٍ وَاعْتِبَارٍ.

Maka firman Allah “Rabb semesta alam” menunjukkan keesaan-Nya dalam penciptaan, pengaturan, pemberi nikmat, juga dalam kesempurnaan kekayaan-Nya dan sempurnanya kefakiran (ketergantungan) semua alam kepada-Nya dari berbagai macam sisi.

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} الْمَالِكُ: هُوَ مَنْ اتَّصَفَ بِصِفَةِ الْمُلْكِ الَّتِي مِنْ آثَارِهَا أَنَّهُ يَأْمُرُ وَيَنْهَى، وَيُثِيبُ وَيُعَاقِبُ، وَيَتَصَرَّفُ بِمَمَالِيكِهِ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِ التَّصَرُّفَاتِ،
{Raja hari pembalasan} Al-Malik (Raja) adalah Dia yang memiliki sifat kekuasaan yang di antara tanda kekuasaannya adalah Dia yang memerintah dan melarang, Dia yang membalas perbuatan baik dan membalas perbuatan buruk, dan Dia yang bertindak dan mengatur semua kerajaan dan kekuasaanNya dengan berbagai macam tindakan dan pengaturan yang Dia kehendaki.

وَأَضَافَ الْمُلْكَ لِيَوْمِ الدِّينِ، وَهُوَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، يَوْمَ يُدَانُ النَّاسُ فِيهِ بِأَعْمَالِهِمْ، خَيْرِهَا وَشَرِّهَا، لِأَنَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، يَظْهَرُ لِلْخَلْقِ تَمَامَ الظُّهُورِ، كَمَالُ مُلْكِهِ وَعَدْلِهِ وَحِكْمَتِهِ، وَانْقِطَاعُ أَمْلَاكِ الْخَلَائِقِ.

Disandarkannya al-mulk (kekuasan) dengan hari ad-din (hari pembalasan), hari dibalas semua perbuatan manusia, baik kebaikan nya maupun keburukannya, karena pada hari itu, ditampakkan kepada semua makhluk sesempurnanya penampakan : tentang kesempurnaan kekuasaan Nya keadilan Nya dan hikmah Nya, dan terputusnya kerajaan-kerajaan para makhluk (tidak berlaku)

حَتَّى [إِنَّهُ] يَسْتَوِي فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، الْمُلُوكُ وَالرَّعَايَا وَالْعَبِيدُ وَالْأَحْرَارُ.
كُلُّهُمْ مُذْعِنُونَ لِعَظَمَتِهِ، خَاضِعُونَ لِعِزَّتِهِ، مُنْتَظِرُونَ لِمُجَازَاتِهِ، رَاجُونَ ثَوَابَهُ، خَائِفُونَ مِنْ عِقَابِهِ، فَلِذَلِكَ خَصَّهُ بِالذِّكْرِ، وَإِلَّا فَهُوَ الْمَالِكُ لِيَوْمِ الدَّينِ وَلِغَيْرِهِ مِنْ الْأَيَّامِ.

Sampai-sampai tidak ada bedanya, semua sama pada hari itu, baik itu raja-raja, rakyat jelata, budak-budak, dan orang-orang merdeka. Semua mereka tunduk kepada keagungan Allah, tunduk pada izzah Allah (kemuliaan dan kewibawaan Allah), semuanya berharap akan pahala Allah, takut akan adzab dan hukuman Allah, karena itulah alasan dari penyebutan Allah sebagai Raja pada hari kiamat, padahal Allah adalah Raja pada hari pembalasan dan Raja pada semua hari.

وقوله {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} أَيْ: نَخُصُّكَ وَحْدَكَ بِالْعِبَادَةِ
وَالِاسْتِعَانَةِ، لِأَنَّ تَقْدِيمَ الْمَعْمُولِ يُفِيدُ الْحَصْرَ، وَهُوَ إِثْبَاتُ الْحُكْمِ لِلْمَذْكُورِ، وَنَفْيُهُ عَمَّا عَدَاهُ. فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: نَعْبُدُكَ، وَلَا نَعْبُدُ غَيْرَكَ، وَنَسْتَعِينُ بِكَ، وَلَا نَسْتَعِينُ بِغَيْرِكَ.

Firman Allah {Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan} yaitu : kami mengkhususkan Engkau ya Allah satu-satu Nya yang diibadahi dan diminta pertolongan. Karena pendahuluan objek (ma'mul) bermakna pembatasan, yaitu : penetapan hukum kepada objek dan penafian selainnya,

وَقَدَّمَ الْعِبَادَةَ عَلَى الِاسْتِعَانَةِ، مِنْ بَابِ تَقْدِيمِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ، وَاهْتِمَامًا بِتَقْدِيمِ حَقِّهِ تَعَالَى عَلَى حَقِّ عَبْدِهِ

Dan pendahuluan ibadah kemudian baru isti'anah (memohon pertolongan), merupakan pendahuluan yang umum dulu baru yang khusus, dan juga merupakan bentuk pendahuluan hak Allah di atas hak hamba Nya.

وَ {الْعِبَادَةُ} اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَعْمَالِ، وَالْأَقْوَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. وَ {الِاسْتِعَانَةُ} هِيَ الِاعْتِمَادُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي جَلْبِ الْمَنَافِعِ، وَدَفْعِ الْمَضَارِّ، مَعَ الثِّقَةِ بِهِ فِي تَحْصِيلِ ذَلِكَ.

Dan pengertian ibadah adalah : sebuah nama yang mencakup semua hal yang dicintai Allah dan diridhaiNya, baik itu perbuatan maupun perkataan yang nampak maupun batin (tidak nampak). Adapun isti'anah (memohon pertolongan) adalah bersandar kepada Allah Ta'ala dalam meraih manfaat dan menolak bahaya disertai keyakinan untuk meraih hal tersebut.

وَالْقِيَامُ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَالِاسْتِعَانَةِ بِهِ هُوَ الْوَسِيلَةُ لِلسَّعَادَةِ الْأَبَدِيَّةِ، وَالنَّجَاةُ مِنْ جَمِيعِ الشُّرُورِ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى النَّجَاةِ إِلَّا بِالْقِيَامِ بِهِمَا

Dan pelaksanaan ibadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepada Nya merupakan walisah untuk meraih kebahagiaan yang abadi, dan keselamatan dari berbagai macam keburukan, tidak ada jalan menuju keselamatan dan kesuksesan kecuali dengan mengerjakan keduanya.
وَإِنَّمَا تَكُونُ الْعِبَادَةُ عِبَادَةً، إِذَا كَانَتْ مَأْخُوذَةً عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَقْصُودًا بِهَا وَجْهَ اللَّهِ. فَبِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ تَكُونُ عِبَادَةً،

Ibadah hanya dapat disebut ibadah jika diambil (mencontoh) Rasulullah ﷺ dan diniatkan ibadah tersebut untuk meraih wajah Allah. Maka apabila terpenuhi dua perkara ini baru bisa disebut ibadah.
وَذَكَرَ {الِاسْتِعَانَةَ بَعْدَ {الْعِبَادَةِ مَعَ دُخُولِهَا فِيهَا، لِاحْتِيَاجِ الْعَبْدِ فِي جَمِيعِ عِبَادَاتِهِ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ بِاَللَّهِ تَعَالَى. فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يُعِنهُ اللَّهُ، لَمْ يَحْصُلْ لَهُ مَا يُرِيدُهُ مِنْ فِعْلِ الْأَوَامِرِ، وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي.

Dan penyebutan isti'anah dahulu baru setelah itu ibadah, padahal isti'anah termasuk salah satu ibadah, hal ini dikarenakan butuhnya seorang hamba terhadap isti'anah (pertolongan Allah) dalam semua ibadahnya. Karena jika Allah tidak menolongnya, maka seorang hamba tersebut tidak akan bisa melakukan semua yang Allah perintahkan dan menjauhi semua yang Allah larang.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} أَيْ: دُلَّنَا وَأَرْشِدْنَا، وَوَفِّقْنَا لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَهُوَ الطَّرِيقُ الْوَاضِحُ الْمُوْصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ وَالْعَمَلُ بِهِ،

Kemudian Allah Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” : yaitu tunjukilah kami dan bimbinglah kami, dan berilah kami taufiq kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas yang kita bisa sampai kepada Allah Ta’ala dan kepada surga-Nya, dan jalan yang lurus itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya,

فَاهْدِنَا إِلَى الصِّرَاطِ وَاهْدِنَا فِي الصِّرَاطِ. فَالْهِدَايَةُ إِلَى الصِّرَاطِ: لُزُومُ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَتَرْكُ مَا سِوَاهُ مِنْ الْأَدْيَانِ، وَالْهِدَايَةِ فِي الصِّرَاطِ، تَشْمَلُ الْهِدَايَةَ لِجَمِيعِ التَّفَاصِيلِ الدِّينِيَّةِ عِلْمًا وَعَمَلًا.

Maka tunjukilah kami ya Allah kepada jalan yang lurus dan tunjukilah kami ke dalam jalan yang lurus. Adapun kepada jalan yang lurus adalah melazimi atau menetapi agama islam dan meninggalkan agama selain agama islam, sedangkan hidayah ke dalam jalan yang lurus mencakup hidayah/petunjuk kepada semua ajaran-ajaran islam secara terperinci baik secara ilmu maupun amalan.

فَهَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَجْمَعِ الْأَدْعِيَةِ وَأَنْفَعِهَا لِلْعَبْدِ وَلِهَذَا وَجَبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ بِهِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ صَلَاتِهِ، لِضَرُورَتِهِ إِلَى ذَلِكَ.

Ini adalah bentuk doa yang paling mencakup semua doa dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, oleh karenanya wajib bagi seseorang untuk selalu berdoa kepada Allah dengan doa ini di setiap rakaatnya, dikarenakan sangat pentingnya doa ini.

وَهَذَا الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ هُوَ: ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ﴾ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ.

Dan jalan yang lurus ini adalah “jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka” dari kalangan para Nabi, orang-orang jujur dalam keimanannya, para syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan orang-orang shalih.

﴿غَيْرِ﴾ صِرَاطِ ﴿الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ﴾ الَّذِينَ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ كَالْيَهُودِ وَنَحْوِهِمْ.

“Bukan” jalannya “orang-orang yang dimurkai” yaitu mereka yang mengetahui kebenaran kemudian meninggalkannya seperti yahudi dan orang-orang seperti mereka.

وَغَيْرِ صِرَاطِ ﴿الضَّالِّينَ﴾ الَّذِينَ تَرَكُوا الْحَقَّ عَلَى جَهْلٍ وَضَلَالٍ، كَالنَّصَارَى وَنَحْوِهِمْ.

Dan bukan juga jalan “orang-orang sesat” yaitu mereka yang meninggalkan kebenaran dikarenakan kebodohan dan kesesatan seperti nashrani dan orang-orang seperti mereka.

فَهَذِهِ السُّورَةُ عَلَى إِيجَازِهَا، قَدْ احْتَوَتْ عَلَى مَا لَمْ تَحْتَوِ عَلَيْهِ سُورَةٌ مِنْ سُوَرِ الْقُرْآنِ،

Maka surat ini dengan kesederhanaannya (singkat), tetapi mencakup begitu banyak yang tidak terdapat pada surat lain di dalam Al-Quran.

فَتَضَمَّنَتْ أَنْوَاعَ التَّوْحِيدِ الثَّلَاثَةِ: تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ: ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾.

Surat ini mencakup jenis-jenis tauhid yang 3 yaitu : tauhid rububiyyah, diambil dari firman Allah Ta’ala : “Rabb semesta alam”

وَتَوْحِيدُ الْإِلَهِيَّةِ وَهُوَ إِفْرَادُ اللَّهِ بِالْعِبَادَةِ، يُؤْخَذُ مِنْ لَفْظِ: ﴿اللَّهِ﴾ وَمِنْ قَوْلِهِ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ﴾

Dan tauhid ilahiyyah yaitu mengesakan Allah di dalam peribadahan kepada-Nya, yang diambil dari lafadz “Allah” dan juga dari firman-Nya “Hanya kepada Engkau kami beribadah”.

وَتَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، وَهُوَ إثْبَاتُ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ تَعَالَى، الَّتِي أَثْبَتَهَا لِنَفْسِهِ، وَأَثْبَتَهَا لَهُ رَسُولُهُ مِنْ غَيْرِ تَعْطِيلٍ وَلَا تَمْثِيلٍ وَلَا تَشْبِيهٍ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى ذَلِكَ لَفْظُ ﴿الْحَمْدُ﴾ كَمَا تَقَدَّمَ.

Dan tauhid asma was sifat yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Ta’ala, yang Allah lah yang telah menetapakannya untuk diri-Nya sendiri, hal ini ditunjukkan oleh lafadz “segala puji” pada ayat di atas.

وَتَضَمَّنْت إثْبَاتَ النُّبُوَّةِ فِي قَوْلِهِ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾ لِأَنَّ ذَلِكَ مُمْتَنِعٌ بِدُونِ الرِّسَالَةِ.

Surat Al-Fatihah juga mencakup tentang penetapan nubuwwah (kenabian) di dalam ayat “tunjukilah kami jalan yang lurus”, karena hal ini tidak bisa diraih tanpa adanya risalah (kerosulan).

وَإِثْبَاتَ الْجَزَاءِ عَلَى الْأَعْمَالِ فِي قَوْلِهِ: ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ وَأَنَّ الْجَزَاءَ يَكُونُ بِالْعَدْلِ، لِأَنَّ الدَّيْنَ مَعْنَاهُ الْجَزَاءُ بِالْعَدْلِ.

Dan penetapan hari pembalasan atas semua amalan, berdasarkan firman Allah yang artinya : “Yang menguasai hari pembalasan”, dan sesungguhnya pembalasan itu dilakukan dengan adil, karena arti ad-din adalah pembalasan dengan keadilan.

وَتَضَمَّنَتْ إِثْبَاتَ الْقَدْرِ، وَأَنَّ الْعَبْدَ فَاعِلٌ حَقِيقَةً، خِلَافًا لِلْقَدَرِيَّةِ وَالْجَبْرِيَّةِ. بَلْ تَضَمَّنَتْ الرَّدَّ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِ الْبِدَعِ [وَالضَّلَالِ] فِي قَوْلِهِ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾ لِأَنَّهُ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ وَالْعَمَلُ بِهِ. وَكُلُّ مُبْتَدِعٍ [وَضَالٍّ] فَهُوَ مُخَالِفٌ لِذَلِكَ.

وَتَضَمَّنَتْ إِخْلَاصَ الدِّينِ لِلَّهِ تَعَالَى، عِبَادَةً وَاسْتِعَانَةً فِي قَوْلِهِ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama