Apabila kita merenungi bagaimana Alloh menurunkan syariat agama ini, yang berisi aturan-aturan, mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Maka kita akan dapat menarik kesimpulan dan hikmah yang begitu indah dan luar biasa, bahwa apabila kita mentaati aturan-aturan Alloh dalam semua aspek kehidupan kita, kita akan merasakan kebahagiaan dan keselamatan tidak hanya di dunia namun juga di akherat.
-Seseorang yang taat kepada aturan-aturan Allah, dia hanya cukup mengetahui bahwa Allah mengharamkan judi misalnya dan patuh kepada ketentuan Alloh tsb, maka dia tidak perlu merasakan getirnya pengalaman seseorang yang terjebak judol, yang mana banyak sekali kita dapati seseorang yang terjebak judol, hidupnya berantakan, harta dan asetnya habis, kemudian dia terjebak juga dengan larangan Allah lainnya berupa pinjol, kemudian dia gagal melunasinya. Dia dipermalukan oleh debt collector, sehingga hidupnya stres dan tidak sedikit yang bunuh diri sebagaimana yang kita dengar dari kabar berita. 
-Maka orang yang taat kepada Allah tidak perlu menjadi orang yang hebat dalam menganalisa suatu perkara, apakah perkara ini berbahaya atau tidak, tidak perlu harus memiliki pendidikan tinggi. Cukup dia mengikuti aturan-aturan Allah, dia akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.
-Di antara aturan-aturan yang telah Allah syariatkan adalah aturan jual beli, dikarenakan manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya jual beli di dalam kehidupan sehari-hari mereka 
-Agama kita agama Islam memberikan perhatian khusus terkait bagaimana cara berinteraksi dengan manusia secara maksimal dan optimal dalam jual beli. 
-Agama Islam telah memberikan rambu-rambu terkait bab muamalat ini,
-Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara menjadi seorang pedagang Muslim yang baik dan benar.
Setidaknya ada 7 karakter yang harus dimiliki seorang pedagang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat :
1-Memiliki akidah yang benar
Wajib bagi pedagang muslim untuk beriman bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah Rasulullah, kemudian dia harus mengetahui bahwasanya tujuan dia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
{وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ}

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.”
Maka ayat ini hendaknya kita jadikan pegangan dan prinsip dalam hidup kita. Siapapun kita, apapun pekerjaan dan profesi kita, kita harus menjadikannya sebagai ibadah bernilai pahala di sisi Allah. Yaitu dengan 2 cara :
-Menjalani profesi tsb dengan taat kepada aturan-aturan Allah, takut kepada Alloh untuk jatuh kepada yang diharamkan
-Mengihklaskan lelah dan letih di dalam pekerjaan, dalam hal ini jual beli hanya untuk Allah ‘azza wajalla dan dia harus menjauhi syirik dan riyaa karena hal tersebut dapat menghapus amalan sholeh.
2-Belajar ilmu agama dan mengetahui hukum-hukum jual beli
Khalifah Umar bin al-Khattab Radhiyallahu Anhu, mengeluarkan perintah,

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yang tidak mengerti dien (muamalat)”.
Seorang pedagang Muslim wajib untuk belajar supaya dia tidak terjatuh di dalam perkara haram. Betapa banyak pedagang Muslim yang masih berkutat dengan riba, betapa banyak pedagang Muslim namun tidak paham larangan-larangan dalam jual beli, betapa banyak pedagang muslim yang tidak paham masalah hutang piutang. Maka marilah kita belajar, agar perniagaan kita diberkahi.
3-Bertawakal dan bergantung kepada Allah ‘azza wajalla
Seorang pedagang muslim harus senantiasa menyerahkan urusannya hanya kepada Allah ‘azza wajalla dan dia menjalani sebab-sebab mendapatkan rezeki yang halal bagi dirinya dan untuk keluarganya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

{…وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ…ٓۚ}

‏ ”Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan.”
Maka seorang pedagang yang beriman tidak akan mau bergantung kepada benda-benda mati seperti jimat yang dilarang oleh Alloh. Karena itu sama saja dia lebih memilih bergantung dan menyandarkan rizkinya kepada jimat dan penglaris tsb kemudian mencampakkan Allah Subhanahu wa ta;ala. Waiyydzu billah.
4-Memperbanyak doa
Doa adalah pelipur lara bagi orang yang sedang bersedih. Seorang pedagang pasti pernah mengalami dagangannya tidak laku, merintis dari nol, dan khawatir hasil dagangannya tidak mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Maka doa merupakan senjata  orang-orang yang bertakwa dan orang-orang sholeh. Apabila doa itu datang dari hati yang bersih, jiwa yang suci, serta dari jasad yang khusyu, maka doa itu pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Oleh karena itu marilah kita untuk selalu bersemangat berdoa dan mengharap hanya kepada Allah ‘azza wajalla, agar Allah melapangkan rizki kita, memudahkan urusan, dan memberkahinya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

‏{وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ}

“Dan Tuhanmu berkata: berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku kabulkan.”
5-Mendirikan sholat lima waktu secara berjamaah di masjid
Sesungguhnya mendirikan sholat lima waktu di masjid secara berjamaah merupakan kewajiban bagi seorang muslim laki-laki, baligh, dan berakal serta mampu untuk pergi ke masjid meskipun dengan bantuan orang lain. Tidak boleh meninggalkan sholat berjamaah di masjid kecuali bagi orang-orang yang memiliki udzur syar’i. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya senantiasa mendirikan sholat berjamaah meskipun dalam kondisi jihad Fisabilillah (peperangan), maka bisa kita bayangkan bahwa di dalam keadaan genting saja kita wajib untuk mendirikan sholat lima waktu secara berjamaah, apalagi kita dalam kondisi yang aman dan tidak ada peperangan, maka kita lebih harus untuk melakukan itu. Terkadang sedih kita melihat realita yang ada, begitu banyak para pedagang Muslim namun mereka tidak melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Jangankan di masjid, sholat di rumah pun tidak, dikarenakan kesibukan mereka di dalam berdagang. Itu sering kita jumpai di zaman sekarang. 
Oleh karena itu wahai para pedagang, sadarilah bahwa engkau diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Berapa besaran gajimu dan omsetmu sehingga engkau berani untuk meninggalkan sholat. Lucu memang, engkau mencari rezeki namun dengan cara menjauhi Sang pemberi rezeki. Semoga Allah berikan kita taufik untuk senantiasa melaksanakan sholat tepat waktu di masjid.
6-Meyakini bahwasanya Allah sudah menjamin rezeki makhluknya
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

‏{وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ}

“Dan dilangit telah ditetapkan rezeki bagi kalian dan apa yang dijanjikan untuk kalian.”

Sesungguhnya rezeki seorang hamba itu sudah dijamin oleh Allah ‘azza wajalla. Jangankan kita sebagai manusia, binatang saja sudah Allah jamin rezekinya. Jangankan kita yang muslim, orang kafir saja Allah kasih rezekinya. Oleh karena itu, janganlah kita khawatir, Allah pasti akan memberikan kitarezeki dan tidak akan menyia-nyiakan hidup kita.
7-Jujur
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seringkali memuji dan memotivasi para pedagang. Diantaranya beliau bersabda:

التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada”
Janganlah kita menjadi pedagang yang tidak jujur seperti mengurangi timbangan,dan sebagainya. Alloh berfirman :
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ، ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama