Dalam beribadah kepada Allah, terdapat komponen penting yang harus selalu kita perhatikan, yaitu tentang ikhlas dan menghadirkan niat, karena dua hal ini sangat menentukan diterima atau tidaknya amalan kita, sangat menentukan besar dan kecilnya pahala yang kita dapatkan. Bahkan saking pentingnya dua hal ini, para ulama banyak memulai kitab mereka dengan bab ikhlas, di antara kalangan ulama itu misalnya Al Imam An-Nawawi di dalam kitabnya Riyadus Shalihin, beliau membawakan pada awal kitabnya dengan judul :
باب الإخلاص وإحضار النية في جميع الأعمال والأقوال والأحوال البارزة والخفية
"Bab Ikhlas ikhlas dan menghadirkan niat dalam semua amalan dan perkataan yang nampak maupun tersembunyi"
Apa itu ikhlas? para ulama memberikan definisi tentang ikhlas yaitu :
الاخلاص هو أن يراد بالعمل وجه الله تعالى لا غيره
"Ikhlas adalah menginginkan dari amalannya hanya wajah Allah ta'ala bukan selainnya.
Di dalam kitab Riyadhus Shalihin di dalam bab ini, Imam An-Nawawi menukilkan banyak dalil-dalil dari Alquran dan hadis, dan dalil pertama yang beliau bawakan adalah ayat Al-Quran di dalam surat Al-Bayyinah :
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ 
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus"
 Jadi kita ini sebenarnya diperintah oleh Allah itu bukan dengan sesuatu yang berat, bukan dengan target tertentu, pencapaian tertentu, tidak, Allah hanya memerintahkan kita dengan sesuatu yang ringan yaitu hanya untuk beribadah yang ikhlas.
Mengapa ikhlas itu menjadi sesuatu yang sangat penting? karena orang yang ikhlas akan bahagia hatinya, semakin dia ikhlas maka hatinya akan semakin bahagia. Bagaimana dia tidak bahagia, Allah ta'ala mengetahui kebaikannya, Allah mengetahui amalannya, dan orang ikhlas tersebut menyerahkan semua amalannya hanya untuk Allah.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berkata kepada sahabatnya yang bernama Ubay bin ka'ab:
يا أبي إن الله أمرني أن أقرأ عليك القرآن
"wahai Ubay, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kepadaku untuk membacakan kepadamu Alquran"
Maka Ubay menjawab:
هل سماني الله
"Ya Allah Ya Rasulullah, apakah Allah menyebutkan Namaku?
Orang yang ikhlas benar-benar hanya mengharapkan wajah Allah, mengharapkan keridhoan Allah, tentu sangat senang, bahagia apabila ternyata namanya itu diistimewakan oleh Allah disebut oleh Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab :
سماك لي
"Benar Allah menyebut namamu kepadaku  wahai Ubay"
فجعل أبي يبكي
"Maka Ubay pun tidak bisa menahan air matanya"
Ubay pun menangis bahagia dikarenakan Allah menyebutkan namanya, kita saja apabila nama kita disebut dipuji oleh presiden misalnya atau dipuji oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tentu kita akan senangnya bukan main. Apalagi yang menyebutkan yang memuji kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang begitu agungkan dan muliakan dan ita cintai. 
Mengapa Ubay begitu senang? Karena Allah mengenalnya Allah menyebut namanya, orang ikhlas mengetahui bahwa Allah mengetahui amal ibadahnya sehingga dia tidak peduli ketika ada yang meremehkannya, ketika ada yang merendahkannya, yang dipedulikan hanyalah penilaian Allah.
Di antara kiat-kiat untuk meraih keikhlasan yang berbuah kebahagiaan adalah ketika kita berbuat baik kepada seseorang, maka jangan yang menjadi fokus kita adalah orang tersebut, tetapi yang menjadi fokus kita adalah bahwa kita sedang bermuamalah kepada Allah, ketika kita berbuat baik kepada seseorang, maka fokus kita adalah sedang berbuat baik kepada Allah, maka orang yang ikhlas tidak berharap apapun terhadap orang lain walaupun kebaikannya sangat banyak kepada orang lain tersebut.
Bahkan orang yang ikhlas itu tidak terbersit di hatinya mengharapkan apapun dari orang yang dia telah berbuat baik kepadanya, walaupun hanyalah hal sepele seperti ucapan terima kasih. Di dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta'ala menceritakan tentang orang-orang yang ikhlas :
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."

Maka di antara 7 golongan yang Rasulullah  sebutkan mendapatkan naungan di hari matahari begitu dekat, semua orang kepanasan, tidak ada tempat untuk berteduh, maka hanya ada 7 golongan yang Allah beri naungan agar tidak kepanasan pada hari tersebut. 2 di antaranya adalah orang yang ikhlas, Rasulullah ﷺ bersabda :
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
"Seseorang berinfak bersedekah dengan sembunnyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya  tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya"
Ini adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan keikhlasan yang luar biasa.
Kemudian golongan yang ikhlas kedua adalah seseorang bersendirian mengingat Allah, dia bermunajat kepada Allah seakan-akan dia sedang berbicara dengan Allah, 
فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
"kemudian menetes lah air matanya"
Maka hadist menunjukkan betapa mulianya orang yang ikhlas, karena orang yang ikhlas tidak memperdulikan omongan dan penilaian orang lain, karena dia sadar, mustahil untuk mendapatkan keridhoan seluruh manusia, Imam Syafi'i -rahimahullah- pernah berkata :
رضا الناس غاية لا تدرك
"Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak akan mungkin tercapai"
Maka Ikhlas adalah ibadah yang murni ditujukan dan dipersembahkan hanya untuk Allah saja, tidak ada bagian makhluk apapun yang menjadi tujuan dalam ibadahnya.
Ikhlas adalah sumber kekuatan seorang hamba, orang yang ikhlas akan sanggup melaksanakan ibadah yang begitu lama, begitu panjang, orang yang ikhlas akan sanggup membaca Alquran berlembar-lembar halaman, orang yang ikhlas sanggup menahan lapar untuk berpuasa dia tidak membatalkan puasanya walaupun tidak ada yang melihatnya.
Itulah orang yang ikhlas, ikhlas adalah amalan hati yang berasal dari hati yang bersih, hati yang jauh dari hasad, orang yang ikhlas hanya mengharapkan pujian dari Allah.
Bahkan Ikhlas itu adalah hakikat Islam yang mana para nabi diutus untuk mendakwahkan ibadah yang ikhlas yang murni hanya untuk Allah.
Di dalam Al-Quran, Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah  di surat az-zumar ayat 29 tentang orang ikhlas dengan orang yang tidak ikhlas, 
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Tentu seorang hamba/budak yang memiliki hanya 1 tuan, hidupnya akan lebih mudah, pikirannya lebih tenang karena dia hanya melayani dan menghambakan diri kepada 1 tuan, adapun seorang budak yang tuannya banyak, sudah begitu sering berselisih dan memiliki keinginan yang berbeda-beda, tentu akan sangat merepotkan hamba tersebut, hamba tsb akan pusing, dia tidak tenang, bingung karena banyak yang harus dia layani.
Maka itulah hamba yang beriman itu beribadah hanya kepada Allah, ketika bersedekah maka itu tujuannya hanyaah untuk meraih pahala Allah, bukan malah bersedakah untuk jin atau penungu pohon dan penunggu gunung misalnya. Seorang hamba yang beriman ketika menyeambeih maka dia persembahkan sesembelihannya hanya kepada Allah, bukan untuk dia sembelih kepada laut misalnya, ketika seorang mukmin kesulitan, entah sakit kehilangan barang, maka yang dia mintai pertolongan hanya Allah semata.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"
Kemudian kita pun sudah berjanji kepada Allah di setiap sholat kita :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama