Matan al-ushul ats-tsalatsah dengan harakat dan terjemah (bagian 2)
*الأَصْلُ الأَوَّلُ*

Pokok yang pertama

مَعْرِفَةُ الرَّبِّ

Mengenal Allah

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: مَنْ رَبُّكَ؟

فَقُلْ: رَبِّيَ اللهُ الَّذِي رَبَّانِي، وَرَبَّى جَمِيعَ الْعَالَمِينَ بِنِعَمِهِ، وَهُوَ مَعْبُودِي لَيْسَ لِي مَعْبُودٌ سِوَاهُ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

Apabila ditanyakan kepadamu, “Siapa Tuhanmu?” Maka jawablah, “Tuhanku adalah Allah yang telah memeliharaku dan seluruh alam dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia adalah sesembahanku. Aku tidak memiliki sesembahan selain Dia.” Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )[الفاتحة: 2].

“Segala puji milik Allah tuhan semesta alam.” [QS. Al-Fatihah [1]: 2]

وَكُلُّ مَنْ سِوَى اللهِ عَالَمٌ، وَأَنَا وَاحِدٌ مِنْ ذَلِكَ الْعَالَمِ.

Segala sesuatu selain Allah adalah alam (makhluk).

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: بِمَ عَرَفْتَ رَبَّكَ؟

فَقُلْ: بِآيَاتِهِ وَمَخْلُوقَاتِهِ، وَمِنْ آيَاتِهِ: اللَّيْلُ، وَالنَّهَارُ، وَالشَّمْسُ، وَالْقَمَرُ، وَمِنْ مَخْلُوقَاتِهِ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرَضُونَ السَّبْعُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَمَا بَيْنَهُمَا؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

Apabila ditanyakan kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?” Maka Jawablah, “Dengan tanda-tanda (kekuasaan) dan makhluk-makhluk-Nya.” Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah malam dan siang, dan matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhlukNya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya dalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ) [فصلت: 37]. وَقَوْلُهُ تَعَالَى:

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [QS. AlFussilat [41]: 37]. Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ )[الأعراف: 54]. وَالرَّبُ هُوَ الْمَعْبُودُ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” [QS. Al-A’raf [7]: 54]. Rabb (Tuhan) adalah yang disembah. Dalil hal ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآء بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ)[البقرة: 21، 22].

قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ ـ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى :

“Hai manusia! Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buahbuahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqarah [2]: 21-22]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

الخَالِقُ لِهَذِهِ الأَشْيَاءَ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ.

وَأَنْوَاعُ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا مِثْلُ: الإِسْلامِ، وَالإِيمَانِ، وَالإِحْسَانِ، وَمِنْهُ: الدُّعَاءُ، وَالْخَوْفُ، وَالرَّجَاءُ، وَالتَّوَكُّلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالرَّهْبَةُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَشْيَةُ، وَالإِنَابَةُ، وَالاسْتِعَانَةُ، وَالاسْتِعَاذَةُ، وَالاسْتِغَاثَةُ، وَالذَّبْحُ، وَالنَّذْرُ، وَغَيْرُ ذَلَكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا. كُلُّهَا للهِ تَعَالَى.

وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi.”
Jenis-jenis ibadah yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah Islam, iman, dan ihsan. Di antaranya pula: doa, khauf (takut), raja` (berharap), tawakkal, raghbah (berharap, misalnya berharap amalnya diterima), rahbah (cemas, misalnya cemas amalnya ditolak), khusyu’, khasyyah (takut), inabah (tobat), isti’anah (minta pertolongan), isti’adzah (minta perlindungan dari gangguan setan) istighatsah (minta pertolongan saat genting), menyembelih, bernadzar, dan ibadah-ibadah lainnya yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala secara keseluruhan.
Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )[الجن: 18]. فَمَنْ صَرَفَ مِنْهَا شَيْئًا لِغَيْرِ اللهِ؛ فَهُوَ مُشْرِكٌ كَافِرٌ؛ وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seorang pun bersama Allah.” [QS. Jin [72]: 18] Barangsiapa yang memalingkan satu saja ibadah tersebut kepada selain Allah, maka dia seorang musyrik lagi kafir (batal keislamannya). Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa
ta’ala:

( وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إلهًا آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ )[المؤمنون: 117].

وَفِي الْحَدِيثِ:

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” [QS. Al-Mukminun [23]: 117] Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:

( الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ ). وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Doa adalah intisari ibadah.” [Sunan at-Tirmidzi: Kitab ad-Da’awaat (no. 3371)] Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ )[غافر: 60].

وَدَلِيلُ الْخَوْفِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” [QS. Ghafir [40]: 60] Dalil khauf adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ )[آل عمران: 175].

وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepadaku, jika engkau orang-orang beriman.” [QS. Ali Imran [3]: 175]

Dalil raja` adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا )[الكهف: 110].

وَدَلِيلُ التَّوَكُلِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. AlKahfi [18]: 110]

Dalil tawakkal adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ )[المائدة: 23].

“Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” [QS. Al-Maidah [5]: 23]

وقوله: (وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ)[الطلاق: 3].

وَدَلِيلُ الرَّغْبَةِ، وَالرَّهْبَةِ، وَالْخُشُوعِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” [QS. AthThalaq [65]: 3]

Dalil raghbah, rahbah, dan khusyu’ adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ )[الأنبياء: 90].

وَدَلِيلُ الْخَشْيَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyu’ kepada Kami.” [QS. Al-Anbiya` [21]: 90]
Dalil khasyyah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي…) الآية [البقرة: 150].

وَدَلِيلُ الإِنَابَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah [2]:150]

Dalil inabah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ…) الآية [الزمر: 54].

وَدَلِيلُ الاسْتِعَانَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Dam bertaubatlah kepada Tuhanmu dan serahkanlah dirimu kepada-Nya.” [QS. Az-Zumar [39]:54]

Dalil isti’anah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) [الفاتحة: 5]. وَفِي الْحَدِيثِ:

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” [QS. AlFatihah [1]: 4]

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:

(…وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ).

وَدَلِيلُ الاسْتِعَاذَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allah.”
Dalil isti’adzah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) [الفلق: 1].

“Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhannya falaq.” [QS. Al-Falaq [113]: 1]

و( َقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) [الناس: 1].

وَدَلِيلُ الاسْتِغَاثَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhannya manusia.” [QS. An-Nas [114]: 1]

Dalil istighatsah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ…) الآية[الأنفال: 9].

“Jika engkau beristighatsah kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan mengabulkan bagimu.” [QS. AlAnfal [8]: 9]

وَدَلِيلُ الذَّبْحِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ( قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَه وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ُ) [الأنعام: 161ـ163].

Dalil menyembelih adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya.” [QS. Al-An’am [6]: 162-163]

وَمِنَ السُنَّةِ: (لعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ).

Dalil dari as-Sunnah: “Allah melaknat seseorang yang menyembelih karena selain Allah.”

ودليل النذر قوله تعالى:

Dalil nadzar adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

( يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا ) [الإنسان: 7]

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. [QS. Al-Insan [76]: 7]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama