تَفْسِيرُ سُورَةِ النَّصْرِ

Surat An-Nashr

وهي مدنية

Surat ini termasuk madaniyyah

﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ *

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

إذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ والفَتْحُ *

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

ورَأيْتَ النّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أفْواجًا *

dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ واسْتَغْفِرْهُ إنَّهُ كانَ تَوّابًا﴾ [١ - ٣]

maka bertasbihlah dalam dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

فِي هَذِهِ السُّورَةِ الْكَرِيمَةِ، بِشَارَةٌ وَأَمْرٌ لِرَسُولِهِ عِنْدَ حُصُولِهَا، وَإِشَارَةٌ وَتَنْبِيهٌ عَلَى مَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ.

Pada surat yang mulia ini, terdapat kabar gembira sekaligus perintah kepada Rosul-Nya ketika meraih kabar gembira tersebut, dan juga terdapat isyarat dan sesuatu yang perlu diperhatikan ketika memperolehnya.

فَالْبِشَارَةُ هِيَ الْبِشَارَةُ بِنَصْرِ اللَّهِ لِرَسُولِهِ، وَفَتْحِهِ مَكَّةَ، وَدُخُولُ النَّاسِ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا،

Adapun kabar gembira adalah kabar gembira tentang datangnya pertolongan Allah kepada Rasul-Nya, dan ditaklukkannya kota Mekkah, serta masuknya manusia ke dalam agama islam berbondong-bondong.

بِحَيْثُ يَكُونُ كَثِيرٌ مِنْهُمْ مِنْ أَهْلِهِ وَأَنْصَارِهِ، بَعْدَ أَنْ كَانُوا مِنْ أَعْدَائِهِ،

Yang mana mereka menjadi pengikut dan penolong beliau ﷺ, padahal dahulu mereka adalah musuh-musuh beliau ﷺ

وَقَدْ وَقَعَ هَذَا الْمُبَشَّرُ بِهِ، وَأَمَّا الْأَمْرُ بَعْدَ حُصُولِ النَّصْرِ وَالْفَتْحِ،

Ketika kabar gembira tersebut terealisasi, maka adapun perintah kepada beliau setelah memperoleh pertolongan dan kemenangan

فَأَمَرَ رَسُولَهُ أَنْ يَشْكُرَ رَبَّهُ عَلَى ذَلِكَ، وَيُسَبِّحَ بِحَمْدِهِ وَيَسْتَغْفِرَهُ،

Yaitu perintah untuk bersyukur rasul-Nya kepada RabbNya atas hal tersebut, dan bertasbih dengan memuiji-Nya dan beristighfar

وَأَمَّا الْإِشَارَةُ، فَإِنَّ فِي ذَلِكَ إشَارَتَيْنِ:

Dan adapun isyarat, maka terdapat 2 isyarat :

إشَارَةٌ لِأَنْ يَسْتَمِرَّ النَّصْرُ لِهَذَا الدَّينِ ، وَيَزْدَادُ عِنْدَ حُصُولِ التَّسْبِيحِ بِحَمْدِ اللَّهِ وَاسْتِغْفَارِهِ مِنْ رَسُولِهِ، فَإِنَّ هَذَا مِنْ الشُّكْرِ،

Pertama isyarat bahwa pertolongan Allah akan terus berlanjut terhadap agama ini, maka bertambahlah tasbih beliau dengan memuji Allah dan beristighfar, karena hal tersebut termasuk bagian dari bersyukur

وَاَللَّهُ يَقُولُ: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ وَقَدْ وُجِدَ ذَلِكَ فِي زَمَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَبَعْدَهُمْ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ لَمْ يَزَلْ نَصْرُ اللَّهِ مُسْتَمِرًّا،

Allah berfirman : “jika kalian bersyukur maka pasti akan aku tambahkan” dan hal ini terbukti pada zaman khulafa ar-rosyidin dan juga setelah zaman mereka pada umat ini bahwa pertolongan Allah terus berlanjut

حَتَّى وَصَلَ الْإِسْلَامُ إلَى مَا لَمْ يَصِلْ إلَيْهِ دِينٌ مِنْ الْأَدْيَانِ،

Hingga sampailah islam berkembang dan berjaya yang belum pernah dialami agama-agama lain

وَدَخَلَ فِيهِ مَا لَمْ يَدْخُلْ فِي غَيْرِهِ،

Dan begitu banyak yang masuk Islam yang belum pernah terjadi seperti demikian

حَتَّى حَدَثَ مِنْ الْأُمَّةِ مِنْ مُخَالَفَةِ أَمْرِ اللَّهِ مَا حَدَثَ، فَابْتَلَاهُمْ اللَّهُ بِتَفَرُّقِ الْكَلِمَةِ، وَتَشَتُّتِ الْأَمْرِ، فَحَصَلَ مَا حَصَلَ.

Namun ketika umat menyelisihi perintah Allah, maka Allah pun menimpakan mereka dengan perpecahan dan tercerai-berai, maka terjadilah yang terjadi.

[وَمَعَ هَذَا] فَلِهَذِهِ الْأُمَّةِ، وَهَذَا الدِّينُ، مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَلُطْفِهِ، مَا لَا يَخْطُرُ بِالْبَالِ، أَوْ يَدُورُ فِي الْخَيَالِ.

Dan bersamaan dengan itu, maka umat ini, agama ini adalah rahmat dari Allah dan kelembutannya yang tidak terlintas dan terbayangkan dalam pikiran.

وَأَمَّا الْإِشَارَةُ الثَّانِيَةُ، فَهِيَ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ أَجَلَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَدْ قَرُبَ وَدَنَا، وَوَجْهُ ذَلِكَ أَنَّ عُمْرَهُ عُمْرٌ فَاضِلٌ أَقْسَمَ اللَّهُ بِهِ.

Dan adapun isyarat yang kedua adalah isyarat bahwa ajal Rasulullah ﷺ sudah sangat dekat, hal tersebut dipahami dari umur beliau yang terpuji yang mana Allah bersumpah dengannya.

وَقَدْ عُهِدَ أَنَّ الْأُمُورَ الْفَاضِلَةَ تُخْتِمُ بِالِاسْتِغْفَارِ، كَالصَّلَاةِ وَالْحَجِّ، وَغَيْرِ ذَلِكَ.

Dan hal ini diketahui bahwa perkara-perkara yang memiliki keutamaan/kelebihan ditutup dengan istighfar misalnya seperti sholat, haji, dan lain sebagainya.

فَأَمْرُ اللَّهِ لِرَسُولِهِ بِالْحَمْدِ وَالِاسْتِغْفَارِ فِي هَذِهِ الْحَالِ، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ أَجَلَهُ قَدْ انْتَهَى،

Maka perintah Allah kepada Rasul-Nya untuk bertahmid dan beristighfar pada keadaan tersebut merupakan isyarat akan berakhirnya ajal beliau

فَلْيَسْتَعِدَّ وَيَتَهَيَّأْ لِلِقَاءِ رَبِّهِ، وَيَخْتِمُ عُمُرَهُ بِأَفْضَلِ مَا يَجِدُهُ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ.

Maka beliau diisyaratkan untuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabbnya, dan menutup umurnya dengan semua perkara yang paling utama, shalawat Allah dan salam atasnya.

فَكَانَ ﷺ يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ، وَيَقُولُ ذَلِكَ فِي صَلَاتِهِ، يُكْثُرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي.

Maka beliaupun selalu mengamalkan perintah Allah tersebut, dan selalu membaca di setiap sholatnya, dan memperbanyak bacaan di dalam ruku’ dan sujudnya : “Maha Suci Engkau ya Allah dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku”

Post a Comment

أحدث أقدم