Hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah bentuk perwujudan iman yang mendalam.
1. Tingkatan Orang yang Berpuasa
Manusia berbeda-beda dalam menjalankan puasa. Ada yang hanya mengubah jam makan saja tanpa mengubah ibadahnya, ada yang meninggalkan maksiat tapi kembali lagi setelah Ramadhan, dan ada yang benar-benar bertaubat serta mengisi Ramadhan dengan ketaatan yang luar biasa. Sebagaimana Allah berfirman :
هُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
“Mereka itu bertingkat-tingkat derajatnya di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali 'Imran: 163) [02:27].
2. Iman adalah Penentu Derajat Puasa
Perbedaan derajat di antara orang yang berpuasa kembali kepada kadar iman di dalam hati mereka. Iman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan ampunan Allah melalui puasa. Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim) [03:51].
3. Hakikat Puasa adalah Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)
Puasa melatih seseorang untuk merasa selalu diawasi oleh Allah. Seorang mukmin tidak akan makan atau minum di tempat tersembunyi karena ia yakin Allah melihatnya. Inilah bentuk keikhlasan dan ketulusan sejati dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.” 
4. Puasa sebagai Sarana Taubat dari Maksiat
Puasa yang didasari iman harusnya membuat seseorang meninggalkan kemaksiatan. Jika seseorang berpuasa namun tetap melakukan dosa dan maksiat, maka Allah tidak membutuhkan puasanya. Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah melakukannya, dan berbuat kebodohan, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya yang meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari) 
5. Hubungan Ramadhan dan Al-Qur'an
Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an dengan rasa cinta adalah tanda iman yang jujur. Maka hendaknya kita memperbanyak interaksi dengan Al-Qur'an sebagai bentuk "bukti keiimanan" kita kepada Allah dan kepada kitabNya Al-Quran. Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka...” (QS. Al-Anfal: 2) [21:23].
6. Puasa Membentuk Akhlak Mulia
Puasa bukan hanya tentang ibadah ritual, tapi juga tentang akhlak. Orang yang benar-benar beriman akan menjaga lisannya dari menyakiti orang lain. Nabi ﷺ bersabda :
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila pada hari salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencelanya atau memeranginya, hendaklah ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'.”
7. Ucapan Salaf tentang Puasa
Hafshah binti Sirin: Beliau memuji orang yang berpuasa karena meskipun sedang tidur di atas ranjang, ia tetap dihitung sedang dalam keadaan ibadah.
يَا حَبَّذَا عِبَادَةٌ وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِي
Abu Al-Aliyah: Beliau berkata bahwa orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah selama ia tidak melakukan ghibah.
الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ

Post a Comment

أحدث أقدم