Khutbah Jumat - 4 golongan manusia dalam beribadah kepada Allah
إِنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
Jamaah sholat jumat rahimani warahimakulloh . . .
Alhamdulillah, marilah kita untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”. (QS. Ali 'Imran: 102)
Kemudian sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi yang mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang kita berharap kepada Allah, meminta kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang berhak untuk mendapatkan syafaat nabi Nya di hari kiamat kelak. Amin ya robbal alamin.
Jamaah sholat jumat rahimani warahimakulloh . . .
Ketika kita hendak melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan sholat jumat secara berjamaah, tentu niat dan tujuan kita adalah untuk beribadah kepada Allah, menghambakan diri kepada-Nya agar kita meraih pahala yang besar dan mendapatkan rahmat serta kasih sayang Allah Ta’ala dan kita berharap kepada Allah untuk memasukkan kita ke dalam surgaNya. Dan ternyata memang itulah tujuan Allah menciptakan kita. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Maka menghambakan diri menyembah Allah adalah fitrah kita sebagai manusia, maka barang siapa yang menyelisihi fitrahnya tidak mau beribadah kepada Allah maka hidupnya tidak akan bahagia, apabila dia terlihat bahagia maka itu adalah kebahagiaan yang semu, karena setelahnya dia akan menderita di kehidupan akhirat.
Oleh karena itu kita sangat butuh kepada Allah, kita butuh untuk beribadah kepada Allah, adapun Allah tidak butuh sedikitpun dari ibadah kita. Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40)
Maka ibadah yang kita lakukan, amal kebaikan yang kita lakukan akan bermanfaat dan akan kembali kepada diri kita sendiri begitupun keburukan dan maksiat yang kita lakukan akan merugikan diri kita sendiri, Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)
Maka bagaimanapun kita, kita mau ibadah atau tidak, kita melakukan amal kebaikan atau tidak, kita taat atau ingkar, kita maksiat atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh pada kesempurnaan keagungan Allah Ta’ala. Allah berfirman di dalam hadist qudsi:

يَا عِبَادِي! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)
Jamaah sholat jumat rahimani warahimakulloh . . .
Maka manusia dalam menyembah Allah terbagi menjadi 4 golongan :
Yang pertama : mereka yang enggan tidak mau menyembah Allah, entah dikarenakan kesombongan, congkak, atau dilalaikan oleh harta dan kedudukan,
يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٓ اَخْلَدَه
“dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”
Sehingga dia mengira dia tidak akan menghadap Allah mempertanggungjawabkan semua amalan dan hartanya. Padahal Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Padahal sombong kepada sesama manusia saja terancam oleh sabda Nabi -shallallahu ‘alayhi wasallam-
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah dari kesombongan.“ (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Lantas bagaimana kalau seseorang itu sombong kepada Pencipta nya yaitu Allah Rabb semesta alam, bagaimana caranya dia akan masuk ke dalam surga Allah. Padahal Nabi -shallallahu ‘alayhi wasallam- bersabda :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Para sahabat bertanya: ya Rasulullah, siapa orang yang enggan. Beliau menjawab: Siapa yang taat kepadaku dia masuk surga, siapa yang durhaka kepadaku dia-lah orang yang enggan masuk surga.” (HR. al-Bukhari)
Jamaah sholat jumat rahimani warahimakulloh . . .
Kemudian golongan yang kedua adalah mereka yang menyembah Allah, namun disayangkan dia menduakan Allah dalam ibadahnya, dia melakukan kemusyrikan, yang seharusnya ibadah itu harus diikhlaskan dan dimurnikan hanya kepada Allah, namun justru dipersembahkan kepada selain Allah. Padahal Allah berfirman :
وَاعْبُدُوْا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا
“Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisa’: 36)
Karena ibadah itu adalah hak Allah, ibadah itu adalah semua hal yang Allah cintai dan Allah ridai, baik itu ibadah yang nampak seperti sholat, sujud, menyembelih, berdoa maka itu semua harus kita persembahkan kepada Allah, maupun itu ibadah hati yang tidak nampak seperti tawakkal berserah diri harus kita tujukan kepada Allah, karena semua ibadah harus ditujukan dan dipersembahkan hanya kepada Allah, maka barangsiapa yang tawakkalnya justru kepada batu, jimat, keris, bahkan dia menyerahkan urusannya kepada dukun padahal Nabi sudah melarang kita untuk tidak mendatangi dukun apalagi memercayai dukun maka kita telah melakukan kemusyrikan. Padahal Allah sangat tidak ridha apabila ada satu ibadah saja yang dipersembahkan kepada selain-Nya. Allah berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesunguhnya barang siapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka sungguh Allah akan mengharamkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah di neraka.” (QS. al-Ma’idah: 72)
Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernh ditanya:
أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia telah menciptakanmu.” (HR. al-Bukhari)
Maka pada hari kiamat kelak orang-orang yang melakukan kemusyrikan akan menyesal dengan penyesalan yang besar, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala berikut:
تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِيْ ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ. إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Demi Allah, kami dahulu benar-benar berada di dalam kesesatan yang nyata, tatkala kami samakan kalian (berhala-berhala) dengan Rabb semesta alam.” (QS. asy-Syu’aro’: 97-98)
Golongan ketiga: “Yaitu golongan orang yang beribadah kepada Allah, namun sangat disayangkan ibadahnya masih banyak kesalahan’
Ibadahnya masih belum sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah, yang mana Allah hanya mau menerima ibadah sesuai dengan yang Allah wahyukan kepada RosulNya, karena memang itulah tujuan Alah mengutus RasulNya untuk mengajarkan kita cara beribadah yang Allah cintai dan Allah ridai. Maka apabila kita ibadah asal-asalan hanya mengikuti orang kebanyakan, tidak mau belajar dan mengoreksi ibadah kita apakah sudah sesuai dengan Al Quran dan hadist, maka Nabi -shallallahu ‘alayhi wasallam- bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan tidak sesuai dengan perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka marilah kita untuk semangat belajar agama, kita perbaiki ibadah kita, karena sungguh merugi apabila kita sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, bahkan harta namun ternyata ibadah tersebut sia-sia tidak bernilai apa-apa di sisi Allah dikarenakan kita ibadah tsb tidak seperti yang dicontohkan oleh Nabi kita -shallallahu ‘alayhi wasallam-
Allah berfirman,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)
أَقٌولُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ فَأَسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِى عَلَيهِ وعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ
Jamaah sholat jumat rahimani warahimakulloh . . .
Adapun golongan yang keempat yang semoga kita termasuk di dalamnya, yaitu mereka yang beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan dan memurnikan ibadah tersebut untuk Allah, tidak melakukan kemusyrikan dan ibadah tersebut sesuai dengan perintah Allah dana Rasulnya.
Karen memang syarat diterimanya ibadah itu ada 2 yaitu harus ikhlas murni untuk Allah tidak dipersembahkan kepada selain Nya dan harus mutabaah yaitu mengikuti ajaran dan contoh Nabi kita -shallallahu ‘alayhi wasallam-. Allah berfirman-Nya:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa yang berharap berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak berbuat kesyirikan terhadap Rabb-nya.” (QS. al-Kahfi: 110)
Marilah kita tutup khutbah ini dengan firman Allah Ta’ala :
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik”.(Al-hadid:16 )
Demikianlah khutbah jumat kali ini, semoga bermanfaat untuk diri kami pribadi dan jamaah sekalian.
ِإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Post a Comment

أحدث أقدم